Untuk pertama kali,
bayangan sketsa wajahnya menembus retina alam mimpi.
Seketika… segumpal daging dalam dada berbisik sepi,
Diakah karunia Sang Maha Pencipta untuk menemani dunia akhiratku?
Menolong di adil mizan-Nya?
Dan memapahku ketika meniti Sirootholmustaqim?
Keagungan rasa padanya
muncul begitu tiba-tiba.
Diiringi murrottal kebahagiaan
yang jarang menghampiriku sebelumnya.
Apakah sketsa itu merupakan jawaban
bagi setiap doa yang selama ini setia kuhaturkan
dalam balutan-balutan hening malam,
suci air mata, dan kesetiaaan hamparan sajadah?
Mungkinkah terrelakan
jemari sucinya menyentuh bahu manusia sepertiku
yang sedang mencinta jiwa dengan kata?
Selama ini bisa kuhitung kata-kata
yang terlepas dari hatiku
untuk bertamu ke gendang telinganya.
Karena tidak ada hal yang bisa diungkapkan
yang mampu menggambarkan perasaan
yang sedang bersenyawa denganku karenanya.
Aku sudah tak memiliki bahasa atau kata
yang tersisa hanya seribu satu doâ
yang diutus untuk dapat menggambarkan suasana
jiwa-jiwa putih ini pada siluet hatinya
hingga dapat membenamkan setetes diriku dalam samudra dirinya
serta menjatuhkan sebutir debuku dalam gurun tak terhingganya.
Para sahabat membaca apa yang aku katakan.
Setiap manusia membaca apa yang aku katakan.
Yang basah dan yang kering membaca apa yang aku katakan.
Semua yang gerak dan yang diam membaca apa yang aku katakan.
Tapi, mungkinkah dia membaca apa yang tidak aku katakan?
Dia membawa pemahaman dalam kedekatan,
membuatkan pesona surgawi,
sampai segala yang ingin aku ungkapkan tak menemukan kata dan suara
karena dia begitu khusus untukku.
Banyaknya putih salju pengharapan yang menghujani penantianku
tak kalah terlewati jumlah helaan nafas seumur bumi.