HITAM PUTIH PENANTIAN

Untuk pertama kali,

bayangan sketsa wajahnya menembus retina alam mimpi.

Seketika… segumpal daging dalam dada berbisik sepi,

Diakah karunia Sang Maha Pencipta untuk menemani dunia akhiratku?

Menolong di adil mizan-Nya?

Dan memapahku ketika meniti Sirootholmustaqim?

 

Keagungan rasa padanya

muncul begitu tiba-tiba.

Diiringi murrottal kebahagiaan

yang jarang menghampiriku sebelumnya.

 

Apakah sketsa itu merupakan jawaban

bagi setiap doa yang selama ini setia kuhaturkan

dalam balutan-balutan hening malam,

suci air mata, dan kesetiaaan hamparan sajadah?

 

Mungkinkah terrelakan

jemari sucinya menyentuh bahu manusia sepertiku

yang sedang mencinta jiwa dengan kata?

 

Selama ini bisa kuhitung kata-kata

yang terlepas dari hatiku

untuk bertamu ke gendang telinganya.

Karena tidak ada hal yang bisa diungkapkan

yang mampu menggambarkan perasaan

yang sedang bersenyawa denganku karenanya.

 

Aku sudah tak memiliki bahasa atau kata

yang tersisa hanya seribu satu doâ

yang diutus untuk dapat menggambarkan suasana

jiwa-jiwa putih ini pada siluet hatinya

hingga dapat membenamkan setetes diriku dalam samudra dirinya

serta menjatuhkan sebutir debuku dalam gurun tak terhingganya.

 

Para sahabat membaca apa yang aku katakan.

Setiap manusia membaca apa yang aku katakan.

Yang basah dan yang kering membaca apa yang aku katakan.

Semua yang gerak dan yang diam membaca apa yang aku katakan.

Tapi, mungkinkah dia membaca apa yang tidak aku katakan?

 

Dia membawa pemahaman dalam kedekatan,

membuatkan pesona surgawi,

sampai segala yang ingin aku ungkapkan tak menemukan kata dan suara

karena dia begitu khusus untukku.

 

Banyaknya putih salju pengharapan yang menghujani penantianku

tak kalah terlewati jumlah helaan nafas seumur bumi.

 

 

 

Purwokerto 6 Januari 2005
By G REE N

Tinggalkan sebuah Komentar