| S | S | R | K | J | S | M |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Mar | ||||||
| 1 | ||||||
| 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 |
| 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 |
| 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 |
| 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 |
| 30 | 31 | |||||
HITAM PUTIH PENANTIAN
Untuk pertama kali,
bayangan sketsa wajahnya menembus retina alam mimpi.
Seketika… segumpal daging dalam dada berbisik sepi,
Diakah karunia Sang Maha Pencipta untuk menemani dunia akhiratku?
Menolong di adil mizan-Nya?
Dan memapahku ketika meniti Sirootholmustaqim?
Keagungan rasa padanya
muncul begitu tiba-tiba.
Diiringi murrottal kebahagiaan
yang jarang menghampiriku sebelumnya.
Apakah sketsa itu merupakan jawaban
bagi setiap doa yang selama ini setia kuhaturkan
dalam balutan-balutan hening malam,
suci air mata, dan kesetiaaan hamparan sajadah?
Mungkinkah terrelakan
jemari sucinya menyentuh bahu manusia sepertiku
yang sedang mencinta jiwa dengan kata?
Selama ini bisa kuhitung kata-kata
yang terlepas dari hatiku
untuk bertamu ke gendang telinganya.
Karena tidak ada hal yang bisa diungkapkan
yang mampu menggambarkan perasaan
yang sedang bersenyawa denganku karenanya.
Aku sudah tak memiliki bahasa atau kata
yang tersisa hanya seribu satu doâ
yang diutus untuk dapat menggambarkan suasana
jiwa-jiwa putih ini pada siluet hatinya
hingga dapat membenamkan setetes diriku dalam samudra dirinya
serta menjatuhkan sebutir debuku dalam gurun tak terhingganya.
Para sahabat membaca apa yang aku katakan.
Setiap manusia membaca apa yang aku katakan.
Yang basah dan yang kering membaca apa yang aku katakan.
Semua yang gerak dan yang diam membaca apa yang aku katakan.
Tapi, mungkinkah dia membaca apa yang tidak aku katakan?
Dia membawa pemahaman dalam kedekatan,
membuatkan pesona surgawi,
sampai segala yang ingin aku ungkapkan tak menemukan kata dan suara
karena dia begitu khusus untukku.
Banyaknya putih salju pengharapan yang menghujani penantianku
tak kalah terlewati jumlah helaan nafas seumur bumi.
Aku Ingin Pulang
Purwokerto, 25 Maret 2007
03.12 pm
AKU INGIN PULANG
Rontaan batin yang tak henti menerawang pulang
Terus merayu, menarik dan memaksaku
Untuk beranjak menuju kampung kelahiran
Yang telah lama merindukan kedatangan putra zamannya
Duhai siang yang tak pernah lelah
Sampaikan alunan salam kasihku pada Bunda
Hingga kurasakan dengan hidmat
Kecupan bibir mulianya di keningku
Duhai malam yang tak bosan menyanyikan senandung tidur
Bacakan puisi kerinduan disamping ayah
Hingga kurasakan kesejukan
Petuah-petuah murni dari jujur cakrawala hatinya.
Duhai senja yang tak pernah berkedip ditiup peradaban
Lesatkanlah dari busur cintaku
Mata panah kasih sayang
Hingga menembus ulu hati adik pertamaku
Duhai pagi yang selalu bersiul ceria
Hidangkanlah lukisan manis kasihku
Hingga kurasakan kelezatan senandung-senandung Al-Qur’an
Yang mengalir deras dari mungil bibir adik bungsuku
Malaikat Putih Berbaju Hitam
‘
Mata hari hari enggan menampakkan parasnya pagi itu
Ketika derap langkah sang waktu beristirahat persis di angka tujuh
Menemani Kutunggu lama kutunggu
Datangnya derap langkah
Sang pengakhir penantian
Akhirnya wangi tubuh itu…
Yang selama lebih dari 1000 hari aku kenal
Dating menghampiriku
Di temani malaikat putih berbaju hitam
Yang enggan berucap hari itu
Aku duduk termenung
Memandang jasadanggun
Sempurna terbalut gaun
Membaca aroma kecantikan anugerah sang maha cantik
Jiwaku bergetar
Dadaku bergoncang
Walaupun kusadari
Awal penciptaan dirinya
Mungkin hanya untuk
Selalu menjadi pengharapan.
Senin 4 september 2006