POSTER HITAM PUTIH PENANTIAN II

Hitam Putih Penantian

HITAM PUTIH PENANTIAN

Untuk pertama kali,

bayangan sketsa wajahnya menembus retina alam mimpi.

Seketika… segumpal daging dalam dada berbisik sepi,

Diakah karunia Sang Maha Pencipta untuk menemani dunia akhiratku?

Menolong di adil mizan-Nya?

Dan memapahku ketika meniti Sirootholmustaqim?

 

Keagungan rasa padanya

muncul begitu tiba-tiba.

Diiringi murrottal kebahagiaan

yang jarang menghampiriku sebelumnya.

 

Apakah sketsa itu merupakan jawaban

bagi setiap doa yang selama ini setia kuhaturkan

dalam balutan-balutan hening malam,

suci air mata, dan kesetiaaan hamparan sajadah?

 

Mungkinkah terrelakan

jemari sucinya menyentuh bahu manusia sepertiku

yang sedang mencinta jiwa dengan kata?

 

Selama ini bisa kuhitung kata-kata

yang terlepas dari hatiku

untuk bertamu ke gendang telinganya.

Karena tidak ada hal yang bisa diungkapkan

yang mampu menggambarkan perasaan

yang sedang bersenyawa denganku karenanya.

 

Aku sudah tak memiliki bahasa atau kata

yang tersisa hanya seribu satu doâ

yang diutus untuk dapat menggambarkan suasana

jiwa-jiwa putih ini pada siluet hatinya

hingga dapat membenamkan setetes diriku dalam samudra dirinya

serta menjatuhkan sebutir debuku dalam gurun tak terhingganya.

 

Para sahabat membaca apa yang aku katakan.

Setiap manusia membaca apa yang aku katakan.

Yang basah dan yang kering membaca apa yang aku katakan.

Semua yang gerak dan yang diam membaca apa yang aku katakan.

Tapi, mungkinkah dia membaca apa yang tidak aku katakan?

 

Dia membawa pemahaman dalam kedekatan,

membuatkan pesona surgawi,

sampai segala yang ingin aku ungkapkan tak menemukan kata dan suara

karena dia begitu khusus untukku.

 

Banyaknya putih salju pengharapan yang menghujani penantianku

tak kalah terlewati jumlah helaan nafas seumur bumi.

 

 

 

Purwokerto 6 Januari 2005
By G REE N

Aku Ingin Pulang

Purwokerto, 25 Maret 2007

03.12 pm

 

 

AKU INGIN PULANG

 

 

Rontaan batin yang tak henti menerawang pulang

Terus merayu, menarik dan memaksaku

Untuk beranjak menuju kampung kelahiran

Yang telah lama merindukan kedatangan putra zamannya

 

Duhai siang yang tak pernah lelah

Sampaikan alunan salam kasihku  pada Bunda

Hingga kurasakan dengan hidmat

Kecupan bibir mulianya di keningku

 

Duhai malam yang tak bosan menyanyikan senandung tidur

Bacakan puisi kerinduan disamping ayah

Hingga kurasakan kesejukan

Petuah-petuah murni dari jujur cakrawala hatinya.

 

Duhai senja yang tak pernah berkedip ditiup peradaban

Lesatkanlah dari busur cintaku

Mata panah kasih sayang

Hingga menembus ulu hati adik pertamaku

 

Duhai pagi yang selalu bersiul ceria

Hidangkanlah lukisan manis kasihku

Hingga kurasakan kelezatan senandung-senandung Al-Qur’an

Yang mengalir deras dari mungil bibir adik bungsuku

 

 

 

Malaikat Putih Berbaju Hitam

 

Mata hari hari enggan menampakkan parasnya pagi itu

Ketika derap langkah sang waktu beristirahat persis di angka tujuh

Menemani Kutunggu lama kutunggu

Datangnya derap langkah

Sang pengakhir penantian

 

Akhirnya wangi tubuh itu…

Yang selama lebih dari 1000 hari aku kenal

Dating menghampiriku

Di temani malaikat putih berbaju hitam

Yang enggan berucap hari itu

 

Aku duduk termenung

Memandang jasadanggun

Sempurna terbalut gaun

Membaca aroma kecantikan anugerah sang maha cantik

 

Jiwaku bergetar

Dadaku bergoncang

Walaupun kusadari

Awal penciptaan dirinya

Mungkin hanya untuk

 Selalu menjadi pengharapan.

 

 

 

 

 

Senin 4 september 2006